Ikon Wisata Natuna Terganjal Status Lahan

22.46
Natuna menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian penuh dari pusat. Banyak program pembangunan pusat di daerah ini termasuk menjadikannya pengembangan wisata.
Namun, Pulau Senua, salah satu kawasan wisata yang paling populer di daerah ini ternyata masih bermasalah status lahannya hutan lindung.
Padahal, pulau inilah yang tadinya akan dijadikan ikon wisata Natuna. Turis pun sudah banyak yang berkunjung ke sana. Pemkab Natuna menargetkan akan membebaskan 16 titik lokasi untuk pembangunan objek wisata termasuk Pulau Senua. Namun, sebagian terganjal Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
Salah satu contoh lokasi di Pulau Senoa yang diperuntukkan untuk pembangunan ikon wisata Natuna, belum bisa dibebaskan karena termasuk dalam pulau-pulau kecil yang dilindungi.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembelian atau Pembebasan Lahan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Natuna, Agustian mengatakan, Pemkab tidak akan melakukan pembayaran kalau masih ada masalah administrasi yang belum terselesaikan.
”Untuk lokasi yang berada di Pulau Senua, kita belum bisa melakukan pembayaran karena termasuk pulau kecil yang dilindungi,” terang Agustian kepada awak media, Senin (13/11).
Selain lokasi di Pulau Senua, masih ada sepuluh lokasi lagi belum dibebaskan dengan kendala yang sama. ”Dari 16 titik lokasi yang akan dibebaskan baru enam lokasi yang sudah selesai dibayar dengan besar anggaran Rp 4 miliar,” tambah Agustian.
16 titik lokasi pembebasan lahan tersebut diperuntukkan untuk kepentingan pertahanan, pariwisata, pendidikan, kantor camat, dan perhubungan. Pulau Senua terletak di ujung Tanjung Senubing, Bunguran Timur, Natuna. Pulau memiliki kisah sendiri. Kata Senua dalam bahasa setempat berarti satu tubuh berbadan dua.
Menurut cerita, pulau yang terkenal sebagai sarang burung layang-layang putih ini merupakan penjelmaan dari seorang perempuan yang sedang berbadan dua (hamil) bernama Mai Lamah.
Ceritanya, di sebuah daerah di Natuna hiduplah sepasang suami-istri miskin. Suami bernama Baitusen, sedangkan istrinya bernama Mai Lamah. Suatu ketika, mereka memutuskan merantau ke Pulau Bunguran untuk mengadu nasib.
Mereka memilih Pulau Bunguran karena daerah tersebut terkenal memiliki banyak kekayaan laut, terutama karang dan siput. Ketika pertama kali tinggal di Pulau Bunguran, Baitusen bekerja sebagai nelayan sebagaimana umumnya warga yang tinggal di pulau tersebut. Setiap hari, ia pergi ke laut mencari siput-lolak (kerang-kerangan yang kulitnya dapat dibuat perhiasan), kelekuk-kulai (siput mutiara), dan beragam jenis kerang-lokan.
Sedangkan istrinya, Mai Lamah, membantu suaminya membuka kulit kerang untuk dibuat perhiasan. Baitusen dan istrinya pun merasa senang dan betah tinggal di Pulau Bunguran, karena warga pulau tersebut menunjukkan sikap yang ramah dan penuh persaudaraan.
Kebetulan rumah mereka bersebelahan dengan rumah Mak Semah, seorang bidan kampung yang miskin, tetapi baik hati. Di Natuna, banyak lokasi wisata yang layak dikunjungi seperti Pantai Batu Kasah. Batu Sindu. Pantai Sisi. Alif Stone Park. Pulau Senua yang Melegenda. Selemot, Desa Setengar. Pantai Tanjung. Pantai Teluk Buton. Pantai Sahi dengan landmark pulau batu di tengahnya. Air Terjun Gunung Ranai. Masjid Agung Natuna. (hrd)
CopyRight:
News: tanjungpinangpos.id
Foto: Travelingyuk.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »