Biaya Kuliah Mahal dan Nama ITB pun Diplesetkan...
SatuDunia, Jakarta. Biaya kuliah semakin mahal. Pendidikan yang harusnya mampu mengoreksi ketimpangan sosial justru melestariannya. Terkait dengan itu pula nama besar ITB diplesetkan menjadi Institut Teknologi Borjuis.
***
Mungkin orang yang membuat tulisan di kompasiana dengan judul, "ITB = Institut Teknologi Borjuis??", sedang geram mengetahui mahalnya biaya kuliah di kampus itu. Sebuah gegeraman atau kemarahan yang wajar. Karena menurut tulisan itu, biaya kuliah yang harus dibayar pada saat pertama kali masuk ITB sebesar Rp. 55 juta dan biaya kuliah per semester sebesar Rp. 5 juta.
Siapa yang bisa masuk ITB dengan biaya kuliah yang mahal seperti itu? Tentu saja anak-anak muda dari keluarga kaya. Lantas bagaimana dengan kampus lainnya?
Di Universitas Indonesia (UI) misalnya, pada tahun ajaran 2011/2012 mematok biaya kuliah per semester untuk mahasiswa barunya berkisar antara Rp. 5 juta hingga Rp. 7,5 juta/semester. Besarnya biaya kuliah per semester bervariasi tergantung jurusan atau program studi yang diambil. Itu baru uang per semester, belum uang lainnya yang harus dibayar mahasiswa baru pada semester awal.
Bagaimana dengan kampus swasta? Seperti yang ditulis oleh Majalah Campus Edisi September 2011, di PPM School of Management misalnya, biaya asyk S-1 sebesar Rp. 50 juta. Biaya per semester Rp. 3 juta. Dan biaya per SKS (Sistem Kredit Semester) Rp. 300.000.
Universitas Surabaya (Ubaya) misalnya, biaya per semester untuk jurusan ilmu ekonomi Rp. 7,8 juta. Sementara biaya kuliah untuk Jurusan Akuntasi dan Manajemen masing-masing sebesar Rp. 8,5 juta.
Kembali ke ITB. Mungkin karena jengkel dan resah dengan biaya kuliah yang mahal itu, beberapa anak ITB merubah ucapan selamat datang di kampus itu. Semula ucapan selamat datang itu berbunyi, "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa,". Kemudian ucapan itu dirubah menjadi, "Selamat Datang Putra-Putri Terkaya Bangsa,"
Aneh memang. Anggaran pendidikan di APBN ditetapkan menjadi 20% tapi biaya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) justru tidak terjangkau warga miskin. Aneh..
Sebar tulisan ini di ..




