Cuaca Ekstrim Membahana
Waspada, Jakarta. Sebuah laporan iklim dikeluarkan, meneliti bagaimana perubahan iklim akan mengubah cuaca di 24 negara.
Cuaca Ekstrim Membahana
WASPADA ONLINE
JAKARTA - Sebuah laporan iklim dikeluarkan, meneliti bagaimana perubahan iklim akan mengubah cuaca di 24 negara. Seperti apa?
Laporan bertajuk ‘Climate: Observations, projections and impacts’ itu mengungkap hasil yang berbeda-beda, dari satu kawasan ke kawasan lainnya. Namun, kesamaan isi laporan adalah adanya peningkatan banjir di pesisir pulau atau sungai, cuaca ekstrem dan kenaikan temperatur global.
Kenaikan temperatur global, lanjut laporan itu, akan terjadi sebanyak tiga hingga lima derajat Celcius jika emisi gas rumah kaca tidak dipantau. Ahli cuaca meramalkan, kota-kota seperti New York di Amerika Serikat (AS) hingga Dhaka di Bangladesh akan merasakan dampaknya.
Direktur jaringan C40 Cities yang mempromosikan perkembangan berkelanjutan antarkota di seluruh dunia, Simon Reddy menyatakan, hal ini bisa menjadi sebuah katalis adanya migrasi ke daerah pinggir kota. “Jika perhitungan akurat, akan ada beberapa bagian dari seluruh negara di dunia yang mengalami kerusakan. Penduduknya harus mengungsi ke tempat lain agar bisa hidup,” ujarnya tadi malam.
Reddy memberi contoh, sepertiga daerah rawan banjir di Bangladesh, Asia Selatan, kemungkinan tak bisa dihuni karena tinggi permukaan laut di kawasan itu akan naik sekitar dua kaki atau kurang lebih 60 centimeter.
Dengan prediksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) 70% penduduk dunia akan menghuni kota per 2050, dampak perubahan iklim terhadap lingkungan urban atau pinggiran akan menjadi isu yang amat menekan ketimbang sebelumnya. Sejarahnya, kota-kota yang dibangun di dekat perairan dan pesisir tumbuh pesat karena melakukan perdagangan dan transportasi maritim. Sebab itulah, ujar analis perubahan iklim OECD Jan Corfee-Morlot, banyak kota berlokasi di daerah tersebut.
“Artinya, terjadi pula peningkatan terhadap kota-kota yang berpotensi terendam air,” katanya. Hal ini, lanjut Morlot, telah dibuktikan dalam studi yang baru-baru ini dilakukan Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD).
Masalah bertambah pelik, karena Morlot menyatakan yang terancam bukan hanya kota-kota besar di negara berkembang. Namun juga kota-kota di AS seperti New York, Miami, New Orleans hingga Rotterdam di Belanda, negara yang sebagian besar wilayahnya di bawah permukaan laut. “Mereka akan terpaksa membangun infrastruktur tambahan untuk mencegah banjir. Juga tempat-tempat yang akan dijadikan titik evakuasi,” paparnya.
BMKG Inggris memprediksikan, suhu bumi akan naik sekitar tiga hingga lima derajat Celcius pada abad berikutnya. Periset senior di International Institute for Environtment and Development David Dodman menyatakan, suhu di kota-kota akan naik lebih banyak.
Hal ini dikenal sebagai ‘urban heat island effect’, karena lingkungan yang dibangun cenderung menyerap panas lebih banyak saat siang hari dan melepaskan dengan amat lambat pada malam hari. “Kesempatan kota untuk mendinginkan diri amat kecil. Artinya, kenaikan temperatur akibat perubahan iklim akan naik secara berlebihan dan siginifikan di daerah-daerah urban,” lanjutnya.
Ironisnya, sikap penduduk bumi semakin menstimulasi hal ini. Mereka membali pendingin udara secara berlebihan tanpa menyadari besarnya kontribusi benda itu terhadap pemanasan global. Belum lagi sifatnya yang haus listrik.
Dodman menyatakan, ancaman yang juga datang dari naiknya tinggi permukaan laut adalah makin sulitnya menggunakan penyuling air. Sumur-sumur dalam tanah yang menyediakan air tawar, bisa saja akan terendam air asin. “Kasus-kasus ini bakal menimpa kota-kota di pesisir. Air asin masuk ke penyuling air tawar dan membuatnya tak bisa lagi dikonsumsi manusia,” ujar Dodman.
Sementara upaya-upaya internasional untuk menangkal dampak perubahan iklim saat ini belum juga terlihat. Di Indonesia sendiri menurut pemerhati lingkungan dari Universitas Riau, Tengku Ariful Amri, mengatakan, cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Tanah Air adalah dampak dari terhambatnya siklus hidrologi. "Banyangkan, sirkulasi air yang seharusnya tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi kini terasa kian tersendat sehingga terjadi penumpukan penguapan yang akhirnya menyebabkan kondisi ekstrem di berbagai wilayah Tanah Air," katanya.
Intinya, menurut Ariful, saat ini berbagai bentuk hidrologi di muka bumi sudah tidak memiliki pola yang beraturan atau tidak terwujud seperti layaknya. "Hal ini bisa jadi karena alam di wilayah kita tidak lagi terjaga dengan baik dan mengalami kerusakan parah," ujarnya.
Iklim mikro tersebut, kata dia, kemudian menyebar di berbagai kawasan, bahkan sudah membentuk suatu tatanan lingkungan yang 'amburadul' atau serba tidak menentu. "Nah, hal ini juga diakibatkan ekosistem yang ada diberbagai wilayah Tanah Air tidak bisa memberi jaminan tatanan hidrologi yang kondusif atau tidak reguler lagi," tuturnya.
Bisa jadi pula, kondisi ini disebabkan berbagai hal, yang pertama hutan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) sudah tidak memadai lagi, ditambah dengan kondisi lingkungan yang kian kritis. Kemudian, kondisi iklim yang terjadi saat ini mengalami kecenderungan monokultur atau tidak lagi bersahabat dengan lingkungan dan penghuninya. "Sebagai akibatnya, tatanan terhadap hidrologi itu sudah tidak lagi memiliki sistem pusaran yang baik," katanya.
Ariful mencontohkan Hutan Tanam Insdustri (HTI), misalnya perluasan kebun sawit yang 'membabi buta', kesumuanya 'merampok' daerah tangkapan air seperti aliran sungai dan anak sungai yang pada akhirnya menyebabkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
Konsekuensi logisnya, ucap dia, perubahan iklim mendera lingkungan, kemudian ditambah lagi sikap pemerintah dalam menangani masalah lingkungan yang tidak realistis. "Seharusnya, pemerintah melakukan antisipasi jangka panjang, yakni dengan penghijauan kembali, atau menghidupkan lagi hutan-hutan yang telah dirusak atau beralih fungsi menjadi lahan perkebunan," tuturnya.
Namun upaya tersebut menurut Ariful tetap harus diawali dengan pemetaan daerah tangkapan air, baik itu skala kecil maupun skala besar. "Kalau itu tidak dilakukan secepatnya, atau tidak dimulai dengan pembibitan, penanaman dan penataan, maka akan semakin sulit mengatasi perubahan iklim yang sangat drastis," demikian Ariful.




