Dampingi ODHA agar tak Distigma dan Didiskriminasi

ray's picture
Versi printer-friendly

Meskipun isu tentang HIV/AIDS telah menjadi suatu hal yang tidak  asing di telinga kita, tetap saja stigma negatif terhadap para orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terus berlangsung. Padahal, pihak pemerintah maupun lembaga nonpemerintah telah berupaya melakukan kampanye pencegahan HIV/AIDS serta imbauan agar masyarakat tidak mendiskriminasikan ODHA.

Stigma negatif terhadap ODHA, dapat dibuktikan dengan masih tertutupnya para penderita HIV/AIDS ini terhadap kalangan masyarakat. Mereka enggan membuka fakta kesehatan mereka lantaran tidak mau dikucilkan.

Untuk itu, upaya pendampingan para ODHA untuk terus melanjutkan hidup dan mengurangi penyebaran HIV/AIDS harus dilakukan. Langkah ini dibaca oleh lembaga Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spek-HAM) Solo. Sejak 2007 mereka melakukan pendamping terhadap ODHA di Solo serta menjalankan fungsi advokasi terkait permasalahan akses kesehatan.

Manajer Divisi Urban II Spek-HAM, Rahayu Purwaningsih mengatakan program advokasi terhadap ODHA berawal dari dilakukannya program pendampingan terhadap sekitar 1.500  wanita pekerja seks di Solo pada 2006 lalu.

“Dari pendampingan itu kita menemukan di antara mereka ada yang terdeteksi HIV/AIDS. Karena para ODHA tersebut sudah kenal baik dengan kita, mereka memilih untuk didampingi oleh beberapa teman dari Spek-HAM,” terang Ayu ketika dijumpai Joglosemar di Kantor Spek-HAM, Karangasem, Laweyan, Solo, Rabu (26/1). Ia menambahkan saat ini ada sekitar 12 ODHA yang didampingi oleh Spek-HAM.

Berhenti Total
Selain menjalankan fungsi pendampingan terhadap ODHA, langkah advokasi seperti mendorong kebijakan Pemerintah Kota Solo untuk memberikan bantuan akses kesehatan atau obat-obatan tidak hanya untuk ODHA asal Solo. “Karena kebanyakan ODHA yang dari kalangan pekerja seks itu malah dari warga pendatang. Sehingga kita ingin agar mereka juga bisa mengakses layanan PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Solo-red),” terang Ayu.

Dari data Spek-Ham jumlah penderita HIV/AIDS sejak Oktober 2005 hingga Desember 2010 mencapai 495 orang, 153 di antaranya telah meninggal. Ayu menjelaskan untuk memutus penyebaran HIV/AIDS maka diperlukan adanya perubahan perilaku dari para ODHA ini.

Staf Lapangan Spek-HAM, Supatmin menyatakan harapannya agar para ODHA dari kalangan PSK bisa berhenti secara total. “Sehingga bisa mengurangi penyebaran HIV/AIDS. Kita juga lakukan pendampingan dan diskusi tentang bagaimana mereka harus memakai pengaman seperti kondom agar tidak menularkan penyakitnya kepada klien,” terang dia. (Anita Widyaning Putri)

Sebar tulisan ini di .. Share/Save

HIV/AIDS

10.05.2012

Tribunnews, Lampung. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan serius dalam upaya penanggulangann HIV/AIDS dengan meningkatkan VCT dan menambah...

PEB

15.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar pameran foto bertema Save or Delete di Solo pada 12-13 Mei 2012.

IKLIM

15.05.2012

FBC-Padang Pariaman. Bila petani dapat memanfaatkan gas hasil fermentasi, otomatis petani sudah tidak banyak bergantung pada bahan bakar...

ICT/IKPT

16.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Selasa (15/5), salah satu staf SatuDunia (OneWolrd-Indonesia) menjadi narasumber dalam pelatihan advokasi media. Materi...