Green ICT atau Green Washing?

firdaus's picture
Versi printer-friendly

Satudunia, Jakarta. Kampanye Green ICT marak digelar. Namun timbul pertanyaan, apakah kampanye Green ICT  itu akan menjadi sekedar Green Washing?

***

Pernah dimuat di Harian Ekonomi KONTAN, 7 November 2011

Oleh: Firdaus Cahyadi

 

 

Kampanye Green ICT (Information and Communication Technology) terus dikumandangkan. Bertempat di salah satu hotel berbintang di Jakarta, awal November ini digelar konferensi tentang Green ICT. Pesan dari konferensi itu adalah bahwa produk Green ICT menjadi salah satu solusi krisis ekologi yang terjadi saat ini.

 

Dampak dari krisis ekologi yang mengancam keberlanjutan hidup manusia itu ternyata mampu membangkitkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya manjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Kesadaran baru masyarakat itu dengan cepat ditangkap oleh sektor industri, sebagai produsen barang dan jasa. 

 

Kini, sebagaian besar produsen tidak ada yang tidak pro terhadap lingkungan hidup. Bahkan beberapa produsen seperti berlomba mengklaim bahwa produknya adalah produk 'hijau'. Tak terkecuali produsen produk ICT.  Dari sinilah, istilah Green ICT (ICT hijau) pun kini mulai dikampanyekan. 

 

Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah benarkah produk-produk ICT yang diberi label 'green atau hijau'  itu benar-benar ramah lingkungan hidup atau itu justru sebuah Green Washing? 

 

Green Washing adalah istilah yang muncul sekitar tahun 2000-an. Saat itu banyak korporasi yang melakukan pencitraan bahwa perusahaannya ramah lingkungan hidup untuk menyembunyikan fakta terjadinya dampak kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh operasioanal perusahaannya atau juga produknya.

 

Di website milik salah satu produsen produk ICT di Indonesia menuliskan bahwa produknya adalah produk 'green'. Untuk mendukung klaimnya itu, produsen ICT tersebut menuliskan bahwa perusahaannya hendak menggunakan ulang (reuse) atau mendaur ulang (recycle) 75% dari limbah eletronik yang dihasilkan di tahun 2011. 

 

Sikap Kritis Konsumen

 

Sayangnya di website milik perusahaan ICT tersebut tidak diinformasikan, bagaimana publik atau konsumen bisa memastikan bila produsen ICT itu telah melakukan daur ulang terhadap limbah elekroniknya, adakah pemantauan dari pihak ketiga yang dapat dipercaya? Di website itu juga tidak ada informasi apakah produk ICT dari perusahaan itu bebas dari penggunaan zat kimia berbahaya, seperti, polivinil klorida (PVC), brominated flame (BFR), antimon dan berbagai bahan kimia lainnya yang membahayakan lingkungan hidup?

 

Adanya informasi yang tidak lengkap itu cenderung mengelabuhi konsumen produk ICT. Konsumen hanya diberikan informasi yang sejatinya merupakan klaim sepihak dari produsen tentang produk hijau ICT. Klaim itu selain menyesatkan juga sebuah preseden buruk bagi upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Bagaimana tidak, klaim sepihak itu seperti mengkesploitasi kesadaran lingkungan masyarkat yang mulai tumbuh, hanya untuk kepentingan dagang.

 

Euforia terhadap produk ‘Green ICT’. Itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang terjadi sekarang ini. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, arti euforia  adalah perasaan nyaman atau perasaan gembira yg berlebihan. Karena terlalu larut dalam euforia 'Green', konsumen bisa saja kehilangan daya kritis terhadap produk-produk yang diklaim sebagai produk hijau itu

 

Sikap kritis konsumen perlu dibangun untuk menghadapi euforia Green ICT tersebut. Setidaknya ada empat sikap kritis yang harus dimiliki oleh konsumen terkait gencarnya promosi Green ICT. Pertama, konsumen harus sadar bahwa sebuah produk ICT bisa dikatakan ramah lingkungan hidup bila dihasilkan dari sebuah pabrik yang lokasinya juga ramah lingkungan. Jadi sebuah produk tidak bisa diklaim sebagai produk yang ramah lingkungan bila produk itu dihasilkan dari sebuah pabrik yang sejak dari proses pendiriannya telah merusak keseimbangan ekologi.

 

Sebuah produk yang dihasilkan dari sebuah pabrik yang lokasinya justru merusak siklus air di sebuah kawasan misalnya, tidak bisa dikatakan sebagai produk yang ramah lingkungan. Bagaimana kita bisa mengatakan sebuah produk yang ramah lingkungan bila tempat produksinya sejak awal sudah merusak lingkungan hidup.

 

Kedua, konsumen harus pula memiliki kesadaran bahwa sebuah produk bisa dikatakan ramah lingkungan bila proses produksinya juga ramah lingkungan. Misalnya, sebuah produk ICT dapat dikatakan ramah lingkungan hidup bila dalam produksi setiap unitnya menggunakan energi dan juga menghasilkan limbah yang minimal. Dan tentu saja konsumen juga harus kritis terhadap cara pengelolaan limbah dari pabrik tersebut.

 

Ketiga, konsumen harus pula memiliki kesadaran kritis mengenai komponen-komponen dari sebuah unit produk ICT yang diklaim ramah lingkungan hidup. Konsumen harus selalu mempertanyakan apakah dalam satu unit produk ICT itu terdapat komponen-komponen yang membahayakan kelestarian lingkungan.

 

Keempat, Untuk produk ICT, konsumen juga perlu mengkritisi dorongan sikap konsumtif yang dibawa oleh produk ini. Sikap konsumtif ini tak jarang menjadi awal dari munculnya kerusakan lingkungan hidup.

 

Sebuah peneltian yang dilakukan oleh Yanuar Nugroho, seorang peneliti ICT for Development dari Manchester University Inggris, mengungkapkan hubungan handphone dan penebangan gundulnya hutan jati di Wonosari, Selatan Yogyakarta. 

 

Dalam riset yang berjudul, “Citizens in @ction” itu menyebutkan orang-orang di kawasan Wonosari menebang pohon jati dan menjualnya dengan cepat supaya bisa membeli handphone. Fakta ini menunjukan bahwa gaya hidup digital telah mendorong sebagian orang menghancurkan hutan. Bagaimana produsen ICT merespon sikap konsumtif terhadap produknya yang harus dibayar dengan kehancuran ekologi ini?

 

 Keberlanjutan ekologi adalah tanggung jawab kita bersama, baik produsen maupun konsumen. Dan tanggung jawab itu harus berujung pada komitmen dan tindakan nyata bukan hanya sebatas jargon-jargon Green ICT dalam kampanye yang cenderung menjadi sekedar siasat dagang. Jika demikian halnya maka, tak berlebihan bila kampanye Green ICT ini sebenarnya hanyalah sebuah Green Washing yang menyesatkan.

 

 

Sebar tulisan ini di .. Share/Save

HIV/AIDS

10.05.2012

Tribunnews, Lampung. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan serius dalam upaya penanggulangann HIV/AIDS dengan meningkatkan VCT dan menambah...

PEB

15.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar pameran foto bertema Save or Delete di Solo pada 12-13 Mei 2012.

IKLIM

15.05.2012

FBC-Padang Pariaman. Bila petani dapat memanfaatkan gas hasil fermentasi, otomatis petani sudah tidak banyak bergantung pada bahan bakar...

ICT/IKPT

16.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Selasa (15/5), salah satu staf SatuDunia (OneWolrd-Indonesia) menjadi narasumber dalam pelatihan advokasi media. Materi...