HIV Sudah Menjadi ‘Tetangga’ Kita
Satudunia, Jakarta. “Hallo, Yu. Apa kabar? Saya Mau me-refer dampingan. Dia sudah bersedia untuk dibantu akses dan diberikan konseling,” sapa seoarang rekan kepada saya di telepon. “Baik Mas. Oke kalo gitu, kita janjian aja di rumah sakit ya,” jawabku.
“Thank you yah! Dia sudah tahu status sejak 2007, dan baru kembali berobat sekarang. Mohon bantuannya ya Yu,” sambut rekanku lagi. “Siap! Sampe ketemu ya,” timpalku.
Lalu saya menutup telepon dan segera berangkat menuju salah satu rumah sakit rujukan di Jakarta Selatan. Sesampainya di sana saya bertemu dengan rekan saya sesama petugas lapangan. Hanya saja kami berbeda lembaga. Lembaganya bergerak di penjangkauan untuk beberapa faktor risiko khusus seperti untuk HRM (High Risk Man/Laki-laki beresiko tinggi), waria, gay, WPS (wanita pekerja seks). Sedangkan lembaga tempat saya bekerja, hanya mendampingi teman-teman yang sudah terinfeksi HIV apapun faktor resikonya termasuk IDU (injection drug user/pengguna narkoba suntik) dan pasangannya, serta anak-anak yang terinfeksi HIV.
Saat kami bertemu, rupanya rekan saya ini sedang bersama pacar si klien. Sedangkan si klien sendiri sedang ke laboratorium untuk tes konfirmasi HIV. Sambil menunggu kedatangannya, saya berbincang-bincang dengan rekan saya dan pacar klien saya. Si pacar bercerita, bahwa si Ane (bukan nama sebenarnya) dulu pernah punya pacar, dan mereka sering berhubungan seks. Tanpa menyadari status pacarnya yang dulu, seiring berjalannya waktu Ane dan pacarnya pun putus. Selang berapa lama dari putusnya hubungan mereka, Ane mendengar kabar bahwa sang pacar adalah ODHA (Orang dengan HIV Positif). Karena panik, Ane-pun langsung memeriksakan diri dengan melakukan VCT (Voluntary Counseling and Testing). Dan hasilnya Reaktif.
Singkat cerita di 2007, Ane menyadari bahwa diri-nya harus menjalani pengobatan intensif, yaitu dengan terapi ARV (antiretroviral). Tak lama kemudian si Ane yang dari tadi sebagai obyek pembicaraan pun datang. Dan saat kami bersalaman, saya melihat Ane seperti mirip teman semasa SMA. Ternyata benar. Ia adalah temen sekolah saya dulu.
Lemas rasanya. Begitupun dia. Ane terlihat pucat pasi saat menyadari bahwa saya menjadi konselornya. Untuk mengurangi ketegangan, saya tidak langsung ngobrol ke pokok permasalahan. Tapi saya mencoba bertanya kabarnya, apa aktifitasnya sekarang dan lain-lain. Sampai akhirnya dia bercerita tantang status HIV-nya. Karena masih menunggu beberapa pemeriksaan laboratorium, Ane yang kebetulan sudah berkonsultasi dengan dokter menyampaikan bahwa dia harus kembali ke kantor. Dan kami pun bertukar nomor telepon.
Sangat memprihatinkan. Benar seperti apa yang pernah saya tulis di artikel saya sebelumnya. ‘HIV bukan isu dunia, dia adalah tetangga kita’. Ane yang saya temui adalah teman semasa SMA. Bukan subjeknya yang kita bicarakan, melainkan perspektif seseorang mengenai HIV harus semakin dirubah. Bahwa sebenarnya, HIV bisa menghinggapi siapa saja, yang tanpa sadar memiliki perilaku berisiko. Dan peran serta dukungan keluarga terdekat serta lingkungan sekitar akan sangat berarti. Dan bila masyarakat berperan serta dengan merubah perspektif dan sudut pandangnya tentang HIV/AIDS maka harapan saya angka kematian pada ODHA akan menurun karena segera tertangani dan angka penyenarannya pun akan bisa ditekan.




