HIV tak Menyurutkan Semangat Viktor Menuntut Ilmu di Jakarta

ray's picture
Versi printer-friendly

Satudunia, Jakarta. Baru kali ini saya mendapat klien pendatang. Bukan dari pulau Jawa ataupun pulau Sumatera. Tapi kali ini dari Papua. Dia baru saja mengetahui status HIV-nya sekitar seminggu yang lalu dari tulisan saya dibuat.

Saya panggil dia bung. Dia orang yang sangat pendiam dan tidak banyak bicara. Apakah karena tidak begitu menguasai bahasa Indonesia dengan baik, atau masih bingung karena status HIV-nya. Viktor (bukan nama sebenarnya), datang ke Jakarta karena mendapat bantuan dana dari pemerintah daerah setempat untuk meneruskan jenjang pendidikan di perguruan tinggi.

Viktor sering merasakan sakit di badannya. Seperti panas tinggi dan ada masalah di sekitar kemaluannya. Dengan rekomendasi dari teman, Viktor memutuskan untuk berobat di salah satu Puskesmas di Jakarta Selatan. Dengan maksud awal memeriksakan infeksi menular seksual (IMS)-nya, dokter setempat melihat ada kecurigaan, dan diputuskan untuk memeriksakan HIV-nya. Dan hasilnya reaktif.

Pada saat proses konseling, Viktor tidak banyak bicara. Dia hanya menjawab singkat dan tidak banyak bercerita. Saya merasa sedikit agak kesulitan untuk berkomunikasi dengannya. Padahal pada saat pemeriksaan darah terakhir, diketahui jumlah trombositnya turun hingga 37.000, dan harus segera mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Ditakutkan ada gejala demam berdarah.

Permasalahan selanjutnya, dia adalah pendatang. Viktor sedikit bercerita, di Jakarta dia tinggal di asrama bersama teman – teman dari Papua. Ada beberapa saudara sepupu yang juga kuliah disini. Tapi, jelas-jelas Viktor menyatakan dia sama sekali tidak punya biaya untuk menjalani rawat inap. Viktor harus menghubungi bagian administrasi kampus, dan menyampaikan bahwa dia perlu dirawat karena demam berdarah. Namun, dia sangat khawatir akan status HIV-nya akan terbuka. Sehingga ancamannya dia tidak mendapat biaya berobat dari pihak kampus. Selain itu, pihak kampus akan memutus biaya kuliahnya. Ketakutan itu bisa saya lihat dari pancaran wajah dan bahasa tubuhnya.

Saya sangat prihatin, mengingat dia sedang menuntut ilmu di Jakarta. Sayang sekali bila waktu kuliahnya yang cuma tinggal 1 tahun ini akan terhenti. Dan, kira-kira apa usaha pemerintah Indonesia untuk membantu teman-teman ODHA pendatang yang terdeteksi status HIV-nya di kota lain?

Semoga, kedepannya Indonesia lebih jeli lagi untuk permasalahan penanggulangan serta pemberian bantuan utuk ODHA. Sekarang Viktor sedang mengurus surat permohonan rawat di tempatnya kuliah. Dia menyampaikan bahwa dia akan mengurus ini sampai tuntas dan akan segera menghubungi saya kembali untuk ditemani ke rumah sakit. Semoga Tuhan mempermudah jalannya, dan ini menjadi pembelajaran bagi semua. (Ayu Oktariani)

Penulis: 
Ayu Oktariani
Sebar tulisan ini di .. Share/Save

HIV/AIDS

10.05.2012

Tribunnews, Lampung. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan serius dalam upaya penanggulangann HIV/AIDS dengan meningkatkan VCT dan menambah...

PEB

15.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar pameran foto bertema Save or Delete di Solo pada 12-13 Mei 2012.

IKLIM

15.05.2012

FBC-Padang Pariaman. Bila petani dapat memanfaatkan gas hasil fermentasi, otomatis petani sudah tidak banyak bergantung pada bahan bakar...

ICT/IKPT

16.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Selasa (15/5), salah satu staf SatuDunia (OneWolrd-Indonesia) menjadi narasumber dalam pelatihan advokasi media. Materi...