Jurnalistik.net Membuka Ruang Belajar Baru di Internet

Luluk Uliyah's picture
Versi printer-friendly

SatuDunia, Jakarta. Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika (Telematika) akhir-akhir adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan. Perkembangan teknologi telematika yang makin konvergen (menyatu) itu memberikan tantangan tersendiri bagi jurnalis. Setidaknya ada dua tantangan yang muncul seiring perkembangan teknologi telematika

Pertama, Pola konsumsi publik terhadap media pun berubah. Hasil Survei Media Index yang dilakukan oleh Nielsen Media Survei, menunjukan pembaca koran konvensional menurun sementara konsumen media internet mengalami kenaikan. Sementara penonton televisi relatif stabil di angka 94%. Artinya, ada kecendrungan konsumen media cenderung memilih media yang menyajikan berita cepat.

Namun, kecepatan penyampaian berita ini juga mengorbankan hal mendasar, yaitu kualitas berita. Banyak kesalahan-kesalahan mendasar media dalam memberitakan suatu kejadian. Kemampuan jurnalistik menjadi taruhan untuk tidak terjebak dalam tuntutan deadline.

Konvergensi media juga menuntut seorang jurnalis untuk mengisi di media cetak dan media online secara bersamaan. Kesempatan jurnalis untuk belajar dan  memperdalam ilmu jurnalistik semakin habis oleh tuntutan pekerjaan. Padahal, tak semua reporter atau jurnalis pernah mengenyam pendidikan khusus jurnalistik. Mereka langsung diterjunkan ke lapangan untuk membuat berita, dengan memegang prinsip learning by doing.

Jurnalis media, baik cetak, televisi, radio dan online, harus berfikir keras untuk menjawab tantangan ini. Para jurnalis harus tetap bisa mempertahankan kualitas produk jurnalistik di tengah tuntutan masyarakat terhadap penyajian berita yang cepat.

Kedua, perkembangan teknologi telematika yang cenderung konvergen itu juga diiringi dengan fenomena makin menguatnya konglomerasi media. Pemilik modal di sektor media memanfaatkan perkembangan telematika ini untuk lebih memperkuat konglomerasi media.

Menguatnya konglomerasi media ini menantang para jurnalis untuk selain tetap mempertahankan idealisme pers, juga menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas. Dalam arti tetap memegang teguh elemen dasar jurnalistik tanpa ‘gangguan’ kepentingan pemilik modal di media tempat para jurnalis itu bekerja.

Terus belajar. Itu mungkin kata kunci agar para jurnalis dapat mengatasi tantangan dampak dari perkembangan teknologi telematika terhadap karya jurnalistik. Atas dasar inilah SatuDunia atas dukungan UNESCO membangun website www.jurnalistik.net, sebagai media social learning diantara para jurnalis. Website ini diharapkan dapat menjadi penghubung pertukaran informasi dan pengetahuan di berbagai media, seperti website, blog maupun digital social media. Website ini juga dapat menjadi sarana belajar bagi mahasiswa atau masyarakat umum yang ingin mendalami dasar-dasar jurnalistik. Kehadiran website ini diharapkan dapat  terjadi pertukaran aliran informasi dan pengetahuan terkait jurnalistik.

Penulis: 
Luluk Uliyah
Sebar tulisan ini di .. Share/Save

HIV/AIDS

10.05.2012

Tribunnews, Lampung. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan serius dalam upaya penanggulangann HIV/AIDS dengan meningkatkan VCT dan menambah...

PEB

15.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar pameran foto bertema Save or Delete di Solo pada 12-13 Mei 2012.

IKLIM

15.05.2012

FBC-Padang Pariaman. Bila petani dapat memanfaatkan gas hasil fermentasi, otomatis petani sudah tidak banyak bergantung pada bahan bakar...

ICT/IKPT

16.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Selasa (15/5), salah satu staf SatuDunia (OneWolrd-Indonesia) menjadi narasumber dalam pelatihan advokasi media. Materi...