Malaysia Harus Menghukum Polisi Biadab Pembunuh 3 TKI

ray's picture
Versi printer-friendly

SatuDunia. Migrant Care menuntut pemerintah Malaysia segera mengusut dan mengadili para polisi pelaku pembunuhan 3 buruh migran asal Indonesia. Desakan tersebut menyusul penembakan polisi Malaysia terhadap 3 orang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Madura (Abdul Sanu, Musdi, dan Muchlis).

Migrant Care merasa geram karena genap 40 hari sejak peristiwa penembakan tersebut belum ada perkembangan yang signifikan mengenai keseriusan Pemerintah Malaysia dalam menuntaskan masalah tersebut.

Ironisnya, pihak Malaysia melalui perwakilannya yang ada di Jakarta juga tidak pernah menyampaikan duka cita kepada pihak keluarga. Informasi yang diterima Migrant Care menyebutkan bahwa hasil otopsi sementara mengindikasikan bahwa penembakan dilakukan dari jarak dekat, sehingga peluru langsung menembus jantung salah satu diantara 3 orang tersebut dan 2 orang lainnya terkena kepalanya. 

Penembakan yang dilakukan oleh Polisi Diraja Malaysia tersebut merupakan pelanggaran HAM serius dan sekaligus melecehkan martabat bangsa Indonesia.

Tragedi keji itu juga menyisakan pertanyaan besar tentang sejauh mana komitmen Malaysia dalam menghormati prinsip-prisnip hak asasi manusia?

Selain itu pemerintah Malaysia dituntut untuk segera menghentikan kriminalisasi dan pembunuhan terhadap buruh migran Indonesia. Migrant Care juga mendesak Malaysia untuk segera mengusut dan menuntaskan kematian-kematian buruh migran Indonesia  akibat kesewenang-wenangan majikan di Malaysia, seperti kematian Kunarsih, Munti Bt Bani dan Fauziah.

Kematian Fauziah (PRT migran asal Cibubur Bogor) pasca penembakan 3 TKI asal Madura menambah daftar panjang kasus pelanggaran HAM terhadap buruh migran Indonesia di Malaysia.

Fauziah yang sebelumnya dikabarkan meninggal karena jatuh dari lantai 5, ternyata hasil otopsi ulang di RSCM Jakarta menyatakan bahwa Fauziah mengalami eksploitasi seksual yang sangat serius hingga organ seksualnya mengalami kerusakan luar biasa. Diluar kematian-kematian itu, sepanjang bulan Januari – April 2010, para pahlawan devisa kita juga banyak yang gugur di Malaysia.

Menyikapi lambannya pemerintah Malaysia dalam menuntaskan tragedi penembakan terhadap ketiga pahlawan devisa tersebut, Migrant Care pada hari Jum’at (23/4) melakukan aksi damai di depan kedutaan besar Malaysia di Jakarta.

Migrant Care menyerukan kepada organisasi-organisasi HAM internasional, seperti Dewan HAM PBB, Amnesty Internasional, Human Rights Watch dan lembaga-lembaga lainnya untuk segera melakukan investigasi dan penyeledikan terhadap penembakan 3 buruh migran oleh polisi Diraja Malaysia serta ribuan kematian buruh migran Indonesia di Malaysia.

 

Penulis: 
ray
Sebar tulisan ini di .. Share/Save

HIV/AIDS

03.02.2012

Tribunnews, Maros. Komite Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Maros menggelar sosialisasi HIV/AIDS agar HIV/AIDS dapat dipahami secara benar...

PEB

02.02.2012

Galamedia, Cianjur. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten urutan paling tinggi dalam penanganan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia....

IKLIM

02.02.2012

KabarIndonesia, Jakarta. Pemanasan global dan perubahan iklim telah mengakibatkan anomali cuaca serta pola hujan yang berubah-ubah dan sulit...

ICT/IKPT

03.02.2012

Kiara, Jakarta. Perkembangan teknologi juga membawa perubahan gerakan masyarakat sipil. Gerakan sms untuk Kapolri dan Kapolda Sumatera Utara (Sumut)...