ODHA, Puasa dan ARV
Satudunia, Jakarta. Setiap tahun di bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan menjalankan puasa (tidak makan dan minum serta tidak melakukan beberapa hal yang diatur) mulai sebelum fajar menyingsing (imsak) sampai matahari terbenar (magrib). Rentang waktu antara imsak dan magrib rata-rata mencapai 13 jam dan 24 – 31 menit.
Sesungguhnya berpuasa tidak merupakan halangan bagi siapapun, temasuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA), karena insya Allah dengan niat berpuasa karena Allah, kondisi yang kita inginkan akan tercapai. “Namun harus tetap berkonsultasi dengan dokter tentang proses minum obat yang tertunda, dipercepat atau didahulukan,” ujar Hj. Rohana Manggala, Sekertaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta di sela-sela temu media dan buka bersama di Jakarta, kemarin (31/8).
Rentang waktu antara imsak dan magrib itulah yang menjadi persoalan besar bagi ODHA yang sudah meminum obat antiretroviral (ARV). Obat ini diperlukan untuk menahan laju perkembangan HIV (virus penyebab AIDS) di dalam darah ODHA.
Kebanyakan ODHA harus meminum obat setiap 12 jam. Aturan minum obat ARV ini sangat ketat karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah. Jika waktu aturan minum dirubah maka akan membuat konsentrasi obat di dalam darah menurun. Kondisi ini memberi peluang bagi HIV untuk memperbanyak diri di dalam darah. Pada tahap berikutnya perubahan jadwal meminum ARV akan membuat HIV resistan (kebal) terhadap ARV.
Seorang ODHA dianjurkan untuk minum obat ARV jika CD4-nya di bawah 350. CD4 adalah gambaran sistem kekebalan tubuh seorang ODHA yang diperiksa di dalam darah melalui laboratorium. Dari aspek medis tidak ada batasan CD4 yang bisa dijadikan sebagai patokan apakah seorang ODHA boleh puasa atau tidak. Patokan yang bisa dipakai adalah dosis obat ARV yang harus diminum setiap hari. Jika dosis minum obat ARV antara 3 – 12 jam setiap hari maka tidak ada kemampuan bagi ODHA untuk berpuasa karena puasa berlangsung lebih dari 13 jam setiap hari.
Beberapa jam setelah minum obat aktivitas obat meningkat sehingga menekan pertumbuhan virus. Tapi, setelah obat mencapai masa puncak di dalam darah maka pada jam-jam berikutinya aktivitas virus mulai naik. Maka, sebelum aktivitas virus mencapai puncaknya obat kembali diminum sehingga bisa menekan pertumbuhan virus di dalam darah. Itulah sebabnya jadwal minum obat sangat ketat agar perkembangan virus bisa dikontrol melalui obat ARV.
“Puasa mengajarkan adherence. Sehingga harus bisa lebih adherence. Termasuk juga pengaturan minum obat ARV. Puasa lebih meningkatkan kualitas makanan gizi seimbang, baik macam makanan maupun jumlahnya,” kata Dr. Paul F Matulessy MN. PGK. DSpGK.
Sementara Rohana menambahkan, kalau kondisinya sudah sangat rentan dan tidak memungkinkan, tentunya aturan dan syarat berpuasa dapat dilakukan. “Misalnya membayar fidiah, memberikan makan dan minum bagi fakir miskin dan tetap berkonsultasi dengan tokoh atau ahli agama dengan menyampaikan berbagai pertimbangan atau kendala yang dihadapi. Insya Allah, Allah maha pengasih, penyayang dan maha mengetahui,” tandas Rohana.
Keputusan untuk berpuasa atau tidak memang ada di tangan ODHA yang sudah menimum obat ARV. Tapi, mereka perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan selama berpuasa karena kelangkaan obat ARV di dalam darah akan memberi peluang yang besar bagi HIV untuk berkembang biak. Pada waktu yang bersamaan yang terjadi adalah kerusakan sel-sel darah putih sehingga menurunkan sistem pertahanan (kekebalan) tubuh.




