Siapa Diuntungkan dari Perkembangan ICT?
Satudunia, Jakarta. Banyak media mengungkap bahwa perkembangan teknologi informasi atau yang lebih dikenal dengan ICT membawa keuntungan bagi masyarakat. Benarkah hal tersebut?
***
“Seorang murid SMU rela tidak makan, tapi ia tidak rela untuk sehari saja tidak online,” ujar content editor Yayasan SatuDunia Anwari Natari di Jakarta (3/2) dalam memaparkan fakta-fakta temuannya terkait perkembangan teknologi informasi (ICT) di Indonesia.
Fakta itu diperkuat oleh Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Thamrin Amal Tamagola. Seperti ditulis oleh vivanews.com, Thamrin mengungkapkan sebuah warnet di Mataram selalu penuh oleh anak SMP dan SMA di jam sekolah. "Untuk akses internet anak kan harus merogok kocek puluhan ribu sehari," kata dia.
Akses internet, handphone dan perangkat teknologi informasi seakan menjadi gaya hidup. Munculnya gaya hidup cyber itu telah menjadikan sebagian besar warga Indonesia menjadi sangat konsumtif. Mereka membeli sesuatu produk yang belum tentu mereka butuhkan.
Kesan itu diperkuat oleh berita di Trans7 (7/2) yang mengungkapkan antrian panjang calon pembeli handphone murah di Surabaya dan Jakarta. Sebegitu pentingkah handphone bagi kehidupan mereka hingga mereka rela berjejalan untuk antre mendapatkan handphone murah? Benarkah kepemilikan akan handphone merupakan kebutuhan atau sekedar gaya hidup yang telah disihir oleh korporasi di bidang ICT sebagai kebutuhan?
Internet dan Gerakan Sosial?
Tidak bisa dipungkiri bahwa ICT khususnya internet terkait dengan keberadaan kelas menengah. Hal itu terkait dengan akses masyarakat terhadapnya. Namun berbagai isu masyarakat kelas bawah seperti buruh, petani, kasus lumpur Lapindo, kondisi tidak manusiawi di KRL ekonomi Jabodetabek juga muncul di internet. Cara paling mudah adalah melihatnya di situs jejaring sosial seperti facebook.
Di facebook isu masyarakat kelas bawah seperti tersebut di atas memang bertebaran di group atau cause. Namun anggota yang tergabung dalam group atau cause yang terkait isu masyarakat kelas bawah itu tidak sebanyak group atau cause yang mengangkat isu masyarakat kelas menengah-atas, seperti isu cicak vs buaya, skandal Bank Centruy dan sebagainya.
Mengapa demikian? Ya karena para pengakses internet sebagaian besar adalah kelas menengah-atas yang jarang bahkan tidak pernah bersentuhan dengan penderitaan masyarakat kelas bawah. Mereka tidak pernah merasakan pedihnya menjadi pengungsi lumpur Lapindo, tidak pula pernah merasakan berhimpitan di KRL kelas ekonomi Jabodetabek.
Internet memang telah bisa menjadi alternative gerakan sosial. Namun sayangnya, gerakan sosial itu masih terbatas pada isu-isu masyarakat kelas menengah-atas. Isu masyarakat kelas bawah masih berada di pinggiran dalam gerakan sosial di dunia maya.
Perkembangan ICT, Siapa Untung dan Siapa yang Buntung?
Jika perkembangan ICT mendorong masyarakat menjadi lebih konsumtif. Membelanjakan pendapatannya untuk sebuah produk barang yang sebenarnya tidak diperlukannya, maka dapat dipastikan yang merengguk keuntungan adalah korporasi yang terkait dengan produk-produk ICT. Produsen laptop, handphone, penyedia jasa internet dan sebagainya adalah pihak yang diuntungkan dari gaya hidup masyarakat yang konsumtif itu.
Warga masyarakat kelas menengah-bawah jelas menjadi pihak yang dirugikan dari budaya konsumtif yang didorong dari perkembangan ICT ini. Upaya gerakan sosial yang dikumandangkan bisa memanfaatkan ICT pun lebih banyak menguntungkan masyarakat kelas menengah-atas bukan masyarakat kelas menengah-bawah. Hal itu disebabkan isu-isu yang terkait persoalan masyarakat kelas menengah-bawah masih, jika tidak mau dikatakan selalu, berada di pinggiran.
Jadi korporasi dan masyarakat kelas menengah-atas yang lebih diuntungkan dari perkembangan ICT di negeri ini. Masyarkat kelas menengah-bawah atau miskin silahkan tetap berada dipinggir.
Sebar tulisan ini di ..





Oleh karena itu, perlu terus diupayakan konsep dan implementasi program-program yang strategis agar pemanfaatan ICT juga bisa dinikmati masyarakat menengah-bawah tanpa harus menguras uang mereka.
Perlu terus ditangkap pembelajaran yang tersebar di beberapa tempat, lalu disebarkan lagi, mengenai pemanfaatan ICT yang menyentuh masyarakat bawah tanpa harus sekaligus jadi jebakan. Bagaimanapun pemanfaatan ICT tidak boleh menjadi keistimewaan bagi menengah atas saja.
Dalam hal ICT bisa menjebak masyarakat kelas bawah jadi konsumtif, memang perlu dipaparkan, media ICT seperti apa saja yang berpotensi menjebak masyarakat kelas bawah menjadi konsumtif.