Solilokui Farid Gaban: Sebuah Ekspresi Nalar
Ketika seorang Farid Gaban belajar tidak bicara, maka sekali lagi suara hati tertuang dalam tulisan. Tidak perlu bicara sebab di sinilah tulisan menyuarakan akal sehat, tanpa perlu berargumen, apalagi mencari perdebatan yang akhirnya mengecilkan makna.
Judul Buku: Belajar Tidak Bicara (solilokui)
Pengarang: Farid Gaban
Pengantar: Goenawan Mohamad
Penerbit: Mizan Pustaka dan Pustaka Republika
Halaman: 263
Tahun Terbit: 1997
Solilokui Farid Gaban: Sebuah Ekspresi Nalar
Oleh: Cut Rindayu
Ketika seorang Farid Gaban belajar tidak bicara, maka sekali lagi suara hati tertuang dalam tulisan. Tidak perlu bicara sebab di sinilah tulisan menyuarakan akal sehat, tanpa perlu berargumen, apalagi mencari perdebatan yang akhirnya mengecilkan makna.
Sulit untuk bersikap teguh terhadap sesuatu dewasa ini. Semuanya serba kabur. Bila kita berteriak-teriak anti-neoliberalisme, coba periksa dulu, jangan-jangan kita menerapkannya dalam kehidupan kita, sadar atau tidak. Begitulah keadaan saat ini yang tergambar dalam buku Belajar Tidak Bicara. Terkadang yang perlu hanyalah monolog dengan diri sendiri untuk berani mengungkap kesadaran. Berkata dalam hati, merenung untuk menerobos batasan yang ada. Menarik, karena saat ini keleluasan pers dibatasi oleh berbagai kepentingan. Kita harus berpikir keras hanya untuk bicara!
Dalam bukunya kali ini, Farid Gaban tampaknya mengajak kita untuk melakukan proses nalar mengenai semangat nasionalisme. Saat ini, pengaruh globalisme yang ada dalam masyarakat Indonesia sudah mulai mengikis rasa nasionalisme. Kaum muda bingung akan jati dirinya, walaupun tanah yang mereka pijak adalah tanah air Indonesia. Para pemangku kekuasaan terseret kekuatan pasar, padahal pada saat dilantik telah berjanji pada Republik ini.
Farid Gaban menggambarkan dalam salah satu solilokuinya pada tahun 1993, Nasionalisme (I). Pemuda yang saat ini di tengah gempuran globalisasi memiliki beban yang lebih besar untuk mempertahankan nasionalisme. Kenyataan ini berlawanan sekali dengan apa yang dialami pendahulu kita di tahun 1945. Musuh nasionalisme saat itu sangat nyata, dapat ditusuk dengan bambu runcing, sedangkan saat ini banyak sekali musuh bangsa. Mulai dari HIV/AIDS, narkoba, korupsi, dan neoliberal, sampai lembaga asing dunia. Di zaman pendahulu kita dulu, mudah membedakan kompeni dan pribumi. Sayangnya, saat ini sering kali musuh utama kita adalah bangsa sendiri.
Buku ini mengungkap kegelisahan masyarakat Indonesia mulai dari akar rumput sampai pada kaum urban yang bingung dengan jati diri mereka. Pasar serta tren adalah gambaran kebahagiaan versi imajinasi konsultan periklanan. Poster-poster khas gaya pasar menjadi jawaban terbaik yang bisa diberikan pada para kaum muda urban yang sedang gelisah geger budaya ini.
Salah satu yang diungkap Farid Gaban dalam buku ini juga mengenai kritik kehidupan bermasyarakat saat ini. Tidak hanya sumber daya alam yang diobok-obok pihak asing. Bermasyarakat pun sudah berubah. Keseragaman menjadi suatu keniscayaan. Semua mengikuti alur pasar, bahkan sampai kepada proses nalar. Keberagaman dan perbedaan menjadi sesuatu yang rawan saat ini. Nalar pun akhirnya selalu dikaitkan dengan pola konsumsi. Seperti terungkap dalam potongan cerita Teralis dalam buku ini.
Pada akhirnya, manusia memiliki jalan lain untuk menyuarakan kegelisahannya. Penulis melakukan solilokui dengan dirinya sendiri. Hasilnya, kritis dan sangat menghibur saat membaca dagelan kaum ibukota dari rakyat kecil sampai pejabat yang dipaparkan secara jernih dan bercerita. Jadi, silakan menikmati suara penulis, walaupun tanpa bicara.
Sebar tulisan ini di ..




