Surat Pembaca, Berujung Pelecehan via SMS?
Satudunia, Jakarta. Seorang ibu menulis surat pembaca di media online. Ironisnya, Ibu tersebut justru mendapatkan pelecehan melalui SMS (Short Message Service). Metode pembungkaman gaya baru?
***
Malang benar nasib Ibu Rosa (bukan nama sebenarnya). Tulisannya dimuat di kolom surat pembaca detik.com. Ia melakukan komplain atas pelayanan sebuah Bank yang dinilainya tidak transparan.
Beberapa saat setelah tulisannya dimuat di kolom surat pembaca itu. Ia mendapat telepon dari seorang pria yang mengaku dari pihak Bank yang bersangkutan. Menurut Ibu Rosa, ia sempat bersitegang dengan penelpon dari pihak bank tersebut.
Beberapa saat kemudian, ia terkejut mendapat SMS (Short Message Service) yang melecehakan statusnya sebagai perempuan. "Kata-kata dalam SMS tersebut jorok dan melecehkan harkat serta martabat saya sebagai seorang perempuan," ujarnya.
Bisa jadi yang mengirim SMS tersebut bukan orang yang berasal dari pihak Bank. Karena surat pembaca di salah satu media online tersebut memang mewajibkan penulisnya mencantumkan nomor handphone miliknya. Mungkin tujuanya agar bisa diklarifikasi oleh pihak yang dikomplain. Bisa jadi karena nomor handphonenya dipublikasikan maka ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang menggunakannya untuk mengirim sms iseng.
Sebaliknya, tidak menutup kemungkinan pula pelecehan melalui sms itu justru berasal dari pihak yang dikomplain. Bila itu yang terjadi maka, jelas hal itu merupakan bentuk pembungkaman gaya baru. Tidak seharusnya suara kritis konsumen dibungkam dengan cara-cara seperti itu.
Mungkin kejadian yang sama tidak hanya dialami oleh Ibu Rosa. Bisa jadi banyak Ibu-ibu, perempuan-perempuan lain yang mendapatkan perlakuan seperti itu setelah menulis surat pembaca di media online.
Sementara untuk menghindari digunakannya nomor telepon/handphone penulis surat pembaca oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, alangkah baiknya bila media online yang membuka kolom Surat Pembaca melindungi privasi dari penulisnya. Syarat untuk ikut mencantumkan nomor handphone/telepon mungkin bisa dilanjutkan namun tidak perlu dipublikasikan. Pihak yang merasa mendapat komplain dari pembaca bisa menanyakan ke media online yang bersangkutan nomor kontak penulis surat pembaca bila ingin melakukan klarifikasi.
Sebar tulisan ini di ..




