Teknologi Biogas Untuk Mengolah Limbah

anwari's picture
Versi printer-friendly

KUPANG, POS KUPANG.Com -- Pengusaha tahu dan ternak babi di Kelurahan Bakunase saat ini menggunakan teknologi biogas untuk mengolah limbah tahu atau ternak menjadi pupuk kompos dan gas, pengganti bahan bakar minyak.

Lurah Bakunase, Bustman S.STP melalui sekretaris lurah, Rince Kase, SE mengatakan, saat ini para pengusaha tahu dan ternak tertarik menggunakan teknologi biogas untuk menangani masalah limbah.

"Dengan teknologi tepat guna itu, limbah tahu dan ternak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain seperti pupuk kompos dan gas yang digunakan untuk mengganti minyak tanah," kata Rince Kase, saat ditemui Kamis (11/11/2010).

Menurut Rince Kase, masalah limbah harus diperhatikan oleh para pengusaha tahu dan ternak karena dapat mencemar lingkungan. Upaya ini dilakukan karena di wilayah Bakunase banyak pengusaha tahu dan ternak. Oleh karena itu masalah limbah juga harus diperhatikan.

Sebelumnya, kata Rince Kase, para pengusaha ternak dan tahu membuat lubang untuk menampung limbah namun kondisi seperti itu tetap mengganggu warga sekitar karena bau limbah sangat menyengat di hidung. Sekarang, dengan adanya teknologi limbah tepat guna, warga tidak terlalu kawatir dengan limbah karena dengan teknologi ini, limbah tahu diolah menjadi gas dan kemudian gas tersebut bisa menggantikan minyak tanah untuk keperluan masak. Sementara untuk limbah ternak dapat diolah untuk menjadi pupuk kompos.

Rince Kase menjelaskan, cara pengolahan limbah tahu atau ternak disimpan di dalam drum selama dua bulan dan dicampur dengan air. Perbandingannya, satu berbanding satu setengah, misalkan satu ember limbah, airnya satu setengah ember.

Limbah tersebut disimpan dalam drum yang sudah disediakan selama dua bulan. Selama dua bulan disimpan dalam drum, limba itu berubah menjadi gas. Kemudian gas itu disalurkan lewat wadah yang dibuat dari karet ban mobil. Dari gas tersebut warga bisa menggunakan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah untuk keperluan masak. Cara pengolohan limba tepat guna ini, lanjut Rince Kase, tidak memakan anggaran yang mahal tapi dengan anggaran Rp 500.000 sudah bisa dibuat.  

Teknologi biogas tersebut diuji coba pada bulan Agustus lalu. Penerapan teknologi ini dilakukan untuk menjaga pencemaran lingkungan dari limbah tahu dan limba ternak.

Menurut Rince Kase, Kelurahan Bakunase terkenal dengan wilayah penghasil tahu dan ternak. Oleh karena itu, dalam menangani masalah limbah perlu ada terobosan baru guna mengatasi masalah pencemaran lingkungan yang dapat merugikan warga lain.

Diharapkan dengan kehadiran teknologi seperti ini, warga tidak lagi membuang limbah pada sembarang tempat yang kemudian dapat mencemar lingkungan.  


Rince Kase mengatakan, pihak kelurahn bekerjasama dengan komunitas Geng Motor Imut Kota Kupang untuk menerapkan teknologi biogas ini bagi masyarakat pengusaha tahu dan ternak di Bakunase. Anggota komunitas Geng Motor Imut Kota Kupang adalah kumpulan mahasiswa Fakulltas Kesehatan  Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana).

Mereka menerapkan teknologi ini karena ada manfaat tambahan, yaitu, limbah bisa menjadi pupuk kompos dan juga limbah diolah menjadi bahan bakar. (hh)

Sebar tulisan ini di .. Share/Save

HIV/AIDS

10.05.2012

Tribunnews, Lampung. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan serius dalam upaya penanggulangann HIV/AIDS dengan meningkatkan VCT dan menambah...

PEB

15.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar pameran foto bertema Save or Delete di Solo pada 12-13 Mei 2012.

IKLIM

15.05.2012

FBC-Padang Pariaman. Bila petani dapat memanfaatkan gas hasil fermentasi, otomatis petani sudah tidak banyak bergantung pada bahan bakar...

ICT/IKPT

16.05.2012

SatuDunia, Jakarta. Selasa (15/5), salah satu staf SatuDunia (OneWolrd-Indonesia) menjadi narasumber dalam pelatihan advokasi media. Materi...